Jumat, 07 Januari 2011

"Puisi cacat"

Puisi itu karya hati
bukan karya kamus yang di mengerti
puisi itu emosi jiwa dan gemuruh hati
loncatan antara cinta dan benci

Cengkraman hati rangkulan jiwa
emosi hati petikkan surga
diantara candaan dan cercaan
emosi hati petikkan dunia

Puisiku catat akhir kehidupan dalam ilmu khayal
Puisiku cacat diakhir rantauan kata ilmu khayal

Wahai pujangga kata
jangan kau bius manusia dengan bisa katamu
dengan puisi-puisi tiada makna
kau bukan tuhan yang bisa merubah asa

Teman katamu itu hanya mengusir penat
diantara seribu bai'at

Indahnya kalimat Al-Quran yang bernaung di lubuk hati
karena ia bukan puisi
hanya Ia firman Ilahi
Allah-lah yang hakiki bukan puisimu yang ku mengerti

Di copy paste dari karya Jaka AJ [9puisi™]

Minggu, 28 November 2010

"Manusia susah membedakan yang baik dan buruk.. karena sangat kontekstual.. oleh karenanya lakukan saja yang baik menurut kita pada saat melakukannya dan tawakal kepada Allah.. karena kasih sayang Allah sering dipahami salah oleh manusia... kadang baik menurut Allah tetapi dipandang sebagai hukuman oleh Manusia..."

Di atas adalah satu kutipan dari sebuah komentar di Facebook dari guru saya Bpk. Drs. Amrullah Sofyan.

Senin, 01 November 2010

Singgasana keangkuhanku... Telah kutinggalkan dirimu... Kosong aku berdiri di atasmu... Sisakan stigma bebankan hidupku...

Selasa, 26 Oktober 2010

Mulai kutinggalkan masa remajaku, beranjak kepada fase berikutnya di mana kematanganku terus di pupuk. Perlahan mulai berkurang ruang pergaulanku, mulai ada arah yang jelas terlihat untuk dituju.
Mungkin di masa tua ku ruang gerak dan fikiranku akan lebih terbatas, akan hanya ada aku urusan masa depanku selanjutnya dan mempersiapkan bekal untuk orang-orang yang akan ku tinggalkan.
Di sini waktuku akan lebih banyak ku habiskan bersama-Mu, karena kilau dan hiruk pikuk dunia sudah tak lagi menarik buatku...
Semoga aku bisa menjaga sisa waktu yang tersisa...

Kamis, 27 Mei 2010


Aku hanyalah mahluk yang sederhana sesederhana kehidupan yang ku jalani jauh dari kegmerlapan hedonis kapitalis yang mereka sebut metropolis, hanya mencoba tuk tampil apa adanya tanpa kebohongan atau kemunafikkan.

Aku seorang teman bagi teman-teman yang percaya dan mengakui keberadaanku sebagai seorang teman dan sahabat.

Aku adalah penggila mikrofon, media di mana aku bisa wujudkan dimensi lain dalam kehidupanku yang kumuntahkan bersama teriakkanku menyatu bersama raungan distorsi dalam jiwa.